Aku tidak pernah berniat jatuh cinta pada orang itu.
Kami dipertemukan secara biasa, lewat lingkaran kecil, dan saat itu ia masih milik orang lain. Aku menjaga jarak karena aku tahu, melangkah ke sana berarti melukai banyak hal. Aku tidak ingin menjadi penyebab retaknya sesuatu yang sudah ada.
Tapi hidup sering punya cara sendiri.
Di saat hubungannya mulai runtuh, kami kembali saling berbicara. Awalnya hanya sapaan ringan, candaan kecil, lalu obrolan yang makin dalam. Tanpa disadari, aku menjadi tempat ia bercerita, tempat ia merasa tidak sendirian. Dan dari situlah perasaan tumbuh bukan dengan rencana, tapi dengan kebiasaan.
Kami tidak pernah memberi nama pada hubungan itu.
Tidak ada kata pacaran. Tidak ada janji masa depan. Kami hanya hadir satu sama lain. Anehnya, justru di situ aku merasa paling dekat. Kadang cinta yang paling dalam justru lahir dari sesuatu yang tidak resmi, karena yang mengikat bukan status, tapi rasa.
Aku tahu sejak awal ini rapuh.
Ada masa lalu yang belum selesai, ada hubungan lama yang masih punya jejak panjang. Tapi aku memilih bertahan, berharap bahwa suatu hari aku akan dipilih. Aku pikir, kalau aku cukup sabar, cukup setia, cukup ada… mungkin akhirnya hatinya akan sepenuhnya berpihak padaku.
Ternyata aku salah.
Aku menyaksikan bagaimana ia kembali ke masa lalunya. Ada air mata, ada cerita, ada rasa bersalah. Dan aku ada di sana, menenangkannya, sambil menyimpan luka sendiri. Mencintai seseorang yang tidak sepenuhnya bebas adalah bentuk cinta yang paling melelahkan, karena kamu selalu bertarung dengan bayangan orang lain.
Yang paling menyakitkan bukan ketika ia pergi.
Yang paling menyakitkan adalah ketika aku sudah memberikan segalanya, tapi tetap bukan pilihan utama. Rasanya seperti berdiri di tengah hujan, memeluk seseorang, tapi tetap kedinginan.
Waktu berjalan, dan kami makin menjauh.
Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada perpisahan yang jelas. Hanya jarak yang tumbuh perlahan. Dan justru karena tidak ada kata “selesai”, hatiku terus menunggu. Aku hidup dalam kemungkinan yang tidak pernah benar-benar terjadi.
Bertahun-tahun setelah itu, namanya masih bisa membuat dadaku sesak.
Bukan karena aku tidak mencoba move on, tapi karena cerita ini tidak pernah ditutup. Ada bagian dari diriku yang terus bertanya: bagaimana jika dulu aku tidak pergi? Bagaimana jika aku bertahan sedikit lagi?
Sampai akhirnya aku sadar:
aku bukan rindu orangnya.
Aku rindu versi dirinya yang memilih aku.
Dan itu adalah hal yang tidak bisa aku kejar lagi.
Melepaskan bukan berarti tidak mencintai.
Melepaskan berarti berhenti menyakiti diri sendiri demi cinta yang tidak kembali. Aku masih mendoakan, masih peduli, tapi aku memilih untuk tidak lagi hadir. Bukan karena benci, tapi karena aku ingin hidupku kembali utuh.
Sekarang aku sedang belajar membangun ruang di dalam diriku lagi.
Ruang untuk tenang. Ruang untuk tidak cemas. Ruang untuk suatu hari, cinta yang baru bisa masuk tanpa harus bersaing dengan masa lalu.
Jika kamu pernah mencintai seseorang di waktu yang salah,
ketahuilah: kamu tidak rusak. Kamu tidak lemah. Kamu hanya pernah memberi hatimu pada orang yang belum siap menerimanya.
Dan suatu hari nanti, cinta yang datang tidak akan terasa seperti perjuangan.
Ia akan terasa seperti pulang.
No comments:
Post a Comment